
“Konsep animal rights ini belum semua orang mengerti dan memahami. Kalau kita berbicara perlakuan kepada binatang yang tadi, karena mereka tidak menghargai konsep animal rights itu, dan mereka melihat hewan sebagai objek yang bisa dieksploitasi."
– Josias Simon, Kriminolog Universitas Indonesia
Seiring berjalannya waktu, kasus penyiksaan terhadap hewan turut meramaikan jejaring sosial. Mulai dari seekor rusa yang diberi alkohol oleh pengunjung, sampai seekor anjing disiksa pemiliknya hingga mati. Awal April 2017, video penyiksaan anjing beredar di media sosial. Seekor anjing bernama Bruno dipukul dan dicekik oleh pemiliknya. Seorang warga yang menyaksikan penyiksaan tersebut mengadu ke Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Garda Satwa Indonesia dan Polsek Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Masih di bulan yang sama, seekor kuda menjadi korban penyiksaan oknum tidak bertanggung jawab. Dalam video yang diunggah akun Instagram @gardasatwaindonesia, kuda yang sedang kelelahan terlihat sedang dicambuk.
"Sama halnya seperti manusia, sekuat apapun (hewan) apabila dipaksa kelelahan bisa saja sakit, pingsan dan terjatuh. Kemungkinan besar kuda ini tak hanya sedang lelah tapi juga sedang sakit," tulis Garda Satwa Indonesia dalam akun Instagram-nya.
Kasus kekerasan terhadap hewan bahkan pernah terjadi di Taman Safari Indonesia pada tahun 2017 silam, warganet dihebohkan dengan sekelompok anak muda yang memberikan minuman keras kepada seekor rusa. Mereka dengan sengaja memberikan minuman beralkohol dan mengunggahnya ke media sosial yang kemudian menjadi viral. Pelaku yang memberi minuman keras tersebut bernama Philip Biondi (27) dan Alyssa Dwi Fitri (25). Secara langsung mereka dihubungi oleh pihak manajemen Taman Safari. Mereka menyampaikan permohonan maaf secara langsung ke pihak Taman Safari atas kejadian yang viral di media sosial.
"Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan maaf secara langsung dan terbuka kepada pihak Taman Safari dan juga masyarakat Indonesia, serta masyarakat Internasional," ujar Philip, di Taman Safari Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Kamis (28/12).
Tidak hanya di Indonesia, kasus kekerasan terhadap hewan bahkan sudah meluas sampai ke ranah internasional. Kasus penyiksaan terhadap anjing terjadi di Cina dikarenakan anjing tersebut kalah balapan greyhound. Seorang laki-laki mengayunkan seekor anjing, membantingnya sampai ke tanah 3 kali hingga tubuh anjing itu hancur dan tewas. Dalam video tersebut, di samping bangkai anjing yang sudah dipenuhi oleh darah, pemiliknya berkata bahwa anjingnya telah kalah dalam pertarungan, jadi ia akan memakan dagingnya. Tetapi sangat disayangkan, Cina tak memiliki hukum yang kuat terkait tindakan penyiksaan hewan.
Baru-baru ini, seekor anak singa berusia beberapa minggu ditangkap dan dipisahkan dari ibunya untuk dipaksa berpose bersama turis di Rusia. Mengutip laman Daily Mail, Senin (15/6/2020), kedua kaki anak singa bernama Simba ini bahkan sengaja dipatahkan untuk mencegahnya lari. Seiring tubuh bertambah besar, kondisi mengenaskan anak singa hampir mati ini sempat diabadikan dalam sebuah video sebelum menjalani operasi yang mengubah hidupnya. Ia dilaporkan perlahan sudah sembuh dan tengah kembali belajar jalan.
"Ia tak diberi makan dan untuk alasan tertentu selalu diguyur dengan air. Ini adalah neraka yang sebenarnya," kata Yulia Ageeva, relawan yang memimpin misi menyelamatkan anak singa tersebut.
"Fotografer jahat mematahkan tulangnya seperti ini agar predator liar tak bisa kabur dan tampak tenang di foto (bersama turis). Kami tak melihat ada kasus kriminal terbuka (terkait penyiksaan hewan),” sambung relawan sekaligus dokter hewan, Karen Dallakyan melalui rapat daring.
Walau kini Simba berhasil diselamatkan, ia mengalami kelainan bentuk secara permanen. Presiden merespon dengan mengucapkan terima kasih dan menulis semua yang dikatakan Dallakyan. Iaberjanji akan menegakkan hukum pada para penyiksa binatang dan semua pihak terlibat. Sebagai sesama makhluk hidup, sebaiknya kita saling menjaga dan menghormati keberadaan satu sama lain agar tercipta kehidupan yang aman, tentram, dan damai.
Penulis: Hardy Pranata
Editor: Faliha Ishma Amado
Approved by: Emma Aliudin
Saya suka bingung deh sama yang bisa berlaku jahat dengan hewan... Luka apa sih yang mereka pernah tanggung sampai bisa setega itu...