top of page

Mengenal Sosok Hangat Sapardi Djoko Damono

Writer: kompressupjkompressupj

Sumber foto: tribunnewsmaker.com

Siapa pun memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan apa apun, selama usahanya dilandasi oleh pengertian.”



Siapa yang tak kenal dengan sosok dibalik kata-kata tersebut, Sapardi Djoko Damono atau yang biasa dipanggil SDD. Beliau lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. SDD adalah seorang pujangga atau penyair asal Indonesia yang karya sastranya sudah banyak dikenal orang.

Berkarya sejak tahun 1950-an, beliau pun telah menerima banyak sekali penghargaan, salah satunya adalah anugerah dari SEA Write Award pada tahun 1986. Beliau memiliki istri bernama Wardiningsih dan dikaruniai dua orang anak, Rasti Sunyandani dan Rizki Henriko.

Kabar duka darinya mengejutkan banyak orang, terutama keluarga dan para penggemar karyanya. SDD dikabarkan meninggal pada 19 Juli 2020 di Rumah Sakit Eka BSD, Tangerang Selatan, Banten. Keluarganya menyebutkan SDD telah dirawat di rumah sakit sejak 9 Juli 2020, karena komplikasi dan sejumlah penyakit lainnya yang tidak dijelaskan secara spesifik.

Namun Marketing Communication Manager dari Rumah Sakit Eka menyebutkan, SDD meninggal karena adanya penurunan fungsi organ. Jenazah SDD langsung dimakamkan pada sore hari di Taman Pemakaman Giritama, Giri Tonjong, Bogor, Jawa Barat. Pemakamannya pun hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat terdekat dikarenakan harus mengikuti protokol kesehatan yang ada.

Di rumah, SDD ternyata dikenal sebagai ayah yang biasa, terlepas dari segala kepopulerannya. Rasti Sunyandani, putri dari SDD mengatakan bahwa beliau mungkin di mata orang lain, mereka menganggapnya banyak, namun bagi ia, SDD adalah seorang ayah yang selalu memberikan pesan pembelajaran bagi keluarga dan anak-anaknya. Bagi SDD, yang diajarkan kepada anak-anaknya adalah sekolah dan belajar. Meskipun begitu, SDD bukan tipe seorang ayah yang penuntut. Beliau bahkan tak menuntut anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya menjadi penyair.

Bagi Dina Ermawati selaku keponakan dari SDD, ia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan SDD. Hal tersebut dikatakan oleh Dina karena ayah dari Dina adalah adik satu-satunya dari SDD, namun telah meninggal terlebih dahulu, sehingga itu membuat ia dengan SDD sangat dekat. Dina yang tinggal di Solo tidak menghalangi kedekatan mereka. Ketika Dina ke Jakarta atau SDD ke Solo, mereka pasti akan berkumpul dan makan-makan bersama keluarga.

Dina sempat menceritakan hal seru yang pernah ia lakukan dengan SDD. Saat karya “Hujan Bulan Juni” tayang di bioskop, mereka sekeluarga nonton bersama dengan SDD. Bagi Dina dan keluarga, SDD juga dianggap sebagai seorang panutan orang yang berhasil. Almarhum ayah Dina pun pernah mengatakan agar anak-anaknya bisa seperti SDD, dapat menjadi seorang panutan dan memberi inspirasi.

Di mata keluarga, SDD dianggap sebagai orang yang humoris dan menyenangkan, banyak petuah yang dikatakan untuk para keluarganya. Kepada para cucunya, SDD sering menasihati dan menyemangati agar dapat sukses dengan gemar membaca, menulis, dan pantang putus asa.

Sosok beliau dikenal sangat baik, menandakan bagaimana ramah dan menyenangkannya kepribadian beliau. Dibalik semua puisi-puisi yang dibuat, beliau sangat lembut dan sangat berarti di hati para keluarga dan para penggemar karyanya. Selamat jalan, Sapardi Djoko Damono. Semua kebaikan, petuah, karya, dan kehangatanmu akan selalu dikenang.



Penulis: Salsa Fadila

Editor: Faliha Ishma Amado

Approved by: Naurissa Biasini

 
 
 

Comentários


Post: Blog2_Post

©2020 by KOMPRESS. Proudly created with Wix.com

bottom of page