top of page

Pilunya Kasus Rasisme pada Mahasiswa Asal Papua di Indonesia

Writer: kompressupjkompressupj

“Kami bukan bangsa monyet, kami manusia.”

-Gubernur Papua, Lukas Enembe.

Sejak tragedi kematian pria asal Afrika-Amerika, George Floyd, karena tindakan seorang polisi di Amerika Serikat membuat banyak masyarakat sadar akan isu sebuah ketidak adilan yang selama ini terjadi pada orang berkulit hitam. George yang dituduh membayar rokok dengan uang palsu dan bertingkah layaknya seorang pemabuk terpaksa mengakhiri hidupnya dengan cara penekanan di leher dengan lutut kaki oleh seorang polisi Minneapolis, Derek Chauvin selama kurang lebih 9 menit. Masyarakat di sekitar yang melihat kejadian itu meminta Chauvin menyingkirkan lututnya namun tak didengarnya. Floyd sempat berkata tidak dapat bernafas dan memanggil ibunya, sebelum menghembuskan nafas terakhir. 


Video tragedi tersebut tersebar luas di media sosial. Seluruh kejadian terlihat sangat jelas hingga memantik kemarahaan warga dunia termasuk salah satunya adalah Indonesia. Dengan menyuarakan tuntutan kepada aparat kepolisian untuk bersikap lebih adil dan menghindari sikap rasisme terhadap warga sipil. Pendukung gerakan ini ditandai dengan tagar #BlackLivesMatter atau nyawa orang berkulit hitam juga penting. 


Pasalnya ras kulit hitam tak hanya ada di Amerika Serikat, Indonesia yang merupakan negara kepulauan, memiliki berbagai macam suku, adat, ras, dan agama. Tentunya tindakan rasisme akan sangat dekat dan mudah terjadi antar individu di Indonesia. Gerakan protes atas kematian George Floyd mengangkat sejarah kelam rasisme di negara ini yang tak kunjung selesai, salah satunya perlakuan rasis dan represi oleh aparat kepada penduduk Papua selama bertahun – tahun lamanya. Sebagai contoh kasus Dano Anes tabuni bersama lima temannya dipenjara atas tuduhan makar aksi damai yang dipicu perlakuan rasis warga dan aparat kepada mahasiswa Papua pada Agustus 2019. 


"Selama ini Indonesia menganggap orang Papua sebagai monyet, hitam, terbelakang, tidak maju, kotor, bau. Dengan label-label seperti itu, ya kapan saja bisa mencuat kasus seperti di Amerika” ujar Dano dilansir dari Tirto.


Rasisme cukup banyak terjadi di Indonesia namun sangat jarang untuk dibahas karena termasuk isu yang sensitif. Perlakuan rasis layaknya sudah mengakar dalam budaya dan sejarah Indonesia dengan bentuk kekerasan fisik dan psikis. Beberapa contoh tindakan rasisme adalah diskriminasi, penindasan, intimidasi, benci, dan kekerasan. Pelakunya tak sebatas hanya aparat kepolisian melainkan dapat dilakukan oleh anak – anak hingga usia dewasa. Hal tersebut dapat terjadi apabila rasisme tidak dikendalikan melalui edukasi tentang toleransi sejak kecil dalam keluarga. 


Obby Kogoya adalah salah satu mahasiswa asal Papua yang menjadi korban. Ia disiksa hanya karena membawa makanan untuk para mahasiswa lainnya di Asrama Papua Kamasan I Yogyakarta yang pada saat itu dikepung oleh kelompok vigilante, polisi, dan tentara karena berniat untuk menyuarakan aspirasinya memperjuangkan bangsa Melanesia. Ia disalahkan atas sikapnya yang melawan tugas aparat. Tubuhnya dibanting, lehernya diapit oleh siku, diborgol, hidungnya dicokok, dan kepalanya diinjak, beruntung Obby selamat. Setelahnya ia tetap ditahan dan dipenjara selama empat bulan. Kejadian itu tersebar luas berkat foto yang diambil oleh seorang fotografer lepas untuk kantor berita Perancis AFP, Suryo Wibowo. Polisi dalam konferensi pers mengklaim bahwa tiada bentuk kericuhan apapun di TKP, berita dan foto yang tersebar di media sosial adalah hoaks. 


Selain Yogyakarta, mahasiswa asal Papua yang tinggal kota besar lainnya seperti Surabaya juga mengalami kasus serupa. Pada tanggal 16 Agustus 2019, sebuah gerbang asrama didatangi oleh sekelompok personel TNI karena terlihat ada sebuah bendera Merah Putih yang dipasang pemerintah Kota Surabaya jatuh ke selokan. Satpol PP dan ormas berdatangan mengepung asrama tersebut hingga esoknya 43 mahasiswa papua yang ditangkap telah dibebaskan karena tak ada bukti kuat atas tuduhan kasus penghinaan lambang negara.


Dilansir dari BBC, seorang mahasiswi asal Papua, Tasya Marian dari Wamena menceritakan sedikit kisah pilunya berjuang untuk beradaptasi di Jakarta. Beberapa toko enggan melayaninya dengan baik, kamar kos yang penuh tak bisa terima orang Papua, teman – teman kuliah yang menutup hidung ketika mahasiswa Papua lewat, pemakan babi mentah, dan lain – lain. Padahal ia sudah membuka diri untuk berteman dengan mahasiswa lainnya namun tak membuahkan hasil. Hal itu membuatnya cenderung memilih untuk berkumpul bersama mahasiswa Papua lainnya. 


“Tolong hargai kami sebagai manusia” ujarnya.


Masih banyak kasus lainnya yang tak terungkap atas tindakan rasisme kepada mahasiswa asal Papua di Indonesia. Kita dapat menutup mata terhadap tindakan keji ini namun tak bisa mengabaikannya sebagai sebuah kenyataan pahit bagi mereka yang mengalaminya hampir setiap waktu. Ketidak adilan adalah hal yang harus diakhiri. Kita semua memiliki hak asasi untuk hidup layak dan dimanusiakan. 


Penulis: Danisa Amanda Ardianti

Editor: Emma Aliudin

 
 
 

1 Comment


naurissa.b
Jun 24, 2020

Rasisme itu memang sulit untuk hilang kalau dari keluarga, media, gak ikut berperan. Semoga keluarga dan media di Indonesia bisa mulai mengajarkan kesetaraan sejak dini untuk anak-anak ya.

Like
Post: Blog2_Post

©2020 by KOMPRESS. Proudly created with Wix.com

bottom of page